Kaderisasi Kepemimpinan OMK: Dari Proses Menjadi Aksi Nyata

DONGGO – Memasuki hari kedua kegiatan Kaderisasi Kepemimpinan OMK (Training Of Trainers) Dekenat NTB, Jumat (20/3/2026) di Donggo, para peserta (Pengurus OMK) diajak untuk melangkah lebih dalam—tidak hanya memahami, tetapi mulai merancang dan mempersiapkan aksi nyata bagi pelayanan di paroki masing-masing.
Kegiatan diawali dengan berkumpul berdasarkan paroki. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada konsep manajemen program yang terstruktur. Mereka diajak untuk tidak hanya berpikir kegiatan sesaat, tetapi menyusun program kerja berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan umat, khususnya Orang Muda Katolik di lingkungan mereka.
Proses ini menjadi langkah awal agar setiap peserta mampu membawa pulang arah dan strategi konkret sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini.

Setelah pembekalan, dinamika berlanjut ke luar ruangan. Peserta dibagi ke dalam enam kelompok besar dan diutus untuk menjalani sebuah pengalaman belajar yang berbeda—menggabungkan iman, refleksi, dan digitalisasi.
Aktivitas tersebut dikemas secara interaktif melalui platform Canva yang telah disiapkan oleh Tim Kerja Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar.
Berbekal buku YOUCAT dan DOCAT, serta seperangkat alat tulis dan peta lokasi seputar gereja St. Yohanes Maria Vianney Donggo, setiap kelompok menyusuri berbagai titik, membaca tanda-tanda, memindai barcode, dan menemukan petunjuk yang terhubung secara digital.

Praketek penyusunan program kerja berdasarkan parokiDalam setiap tautan yang diakses melalui Canva, peserta dihadapkan pada pertanyaan dan tantangan yang harus dijawab serta diunggah secara online. Proses ini tidak hanya mengasah pengetahuan iman, tetapi juga melatih kolaborasi, kreativitas, dan ketepatan dalam mengambil keputusan.
Dinamika ini membawa peserta pada sebuah perjalanan utuh, dari lapangan → ke data → kembali ke Gereja. Dari mencari → memahami → berani menyuarakan.
Seluruh rangkaian tersebut berpuncak pada sesi debat terbuka. Di sinilah peserta dilatih untuk mengintegrasikan pengalaman yang telah mereka lalui. Mereka belajar menghidupi nilai Rasa dengan menjadi pribadi yang peka dan mampu mendengarkan, mengembangkan Guna melalui kemampuan bernalar dan menawarkan solusi, serta mewujudkan Aksi dengan keberanian untuk bersuara dan membawa dampak nyata.

Sebagai penutup hari yang penuh makna, seluruh peserta mengikuti Jalan Salib dan perayaan Ekaristi bersama para imam yang hadir, yaitu Deken NTB RD. Martinus Emanuel Ano, Ketua Komisi Kepemudaan RD. Rony Alfridus Bere Lelo, Pastor Paroki St. Maria-St. Yoseph Dompu RD. Eligius Wahyu Pawarta, Pastor Paroki dan Pastor Rekan Paroki Donggo RD. Agustinus Bere Lau dan RD. Danan Pamungkas.
Momen ini menjadi ruang permenungan sekaligus peneguhan, bahwa seluruh proses yang dijalani tidak berhenti pada kegiatan, tetapi berakar pada iman dan panggilan untuk melayani.
Hari kedua pun menjadi bukti bahwa proses pembinaan ini tidak hanya membentuk kemampuan, tetapi juga hati untuk mempersiapkan para pemimpin muda Gereja yang siap bergerak, solider, dan berdampak (Rasa, Guna dan Aksi). *
Penulis: Ellen-Tim Kerja Komkep Keuskupan Denpasar
Editor: Hiro/KomsosKD



